<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dari seragam hingga alat tulis &#8211; timor-raya.com</title>
	<atom:link href="https://timor-raya.com/tag/dari-seragam-hingga-alat-tulis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<description>Cahaya Timorraya Menerangi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Feb 2026 01:04:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://timor-raya.com/wp-content/uploads/2024/09/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Dari seragam hingga alat tulis &#8211; timor-raya.com</title>
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Antonius Ratu Gah: Sekolah Gratis Itu Ilusi</title>
		<link>https://timor-raya.com/opini/antonius-ratu-gah-sekolah-gratis-itu-ilusi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[timor-raya.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2026 01:04:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Antonius Ratu Gah: Sekolah Gratis Itu Ilusi]]></category>
		<category><![CDATA[biaya tersembunyi terus menghantui. Di Ngada]]></category>
		<category><![CDATA[Dari seragam hingga alat tulis]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan yang Ditanggung Anak Sendirian]]></category>
		<category><![CDATA[Negara yang Terlalu Percaya pada Skema Bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[sebuah pena menjadi garis batas antara hidup dan mati. Opini Oleh: Antonius Ratu Gah]]></category>
		<category><![CDATA[Seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://timor-raya.com/?p=3112</guid>

					<description><![CDATA[Dari seragam hingga alat tulis, biaya tersembunyi terus menghantui. Di Ngada, sebuah pena menjadi garis&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dari seragam hingga alat tulis, biaya tersembunyi terus menghantui. Di Ngada, sebuah pena menjadi garis batas antara hidup dan mati</strong>.</p>
<p><strong>Opini Oleh: Antonius Ratu Gah</strong></p>
<p>&#8220;<strong>Seperti Seekor burung kecil bisa terbang bebas di langit, tapi tetap bisa jatuh hanya karena seutas benang yang melilit kakinya.” </strong><br />
<strong>Begitu pula seorang anak miskin di negeri ini. Ia bisa punya mimpi, semangat, dan cita-cita. Tapi bisa terhenti hanya karena sebuah pena yang tak terbeli</strong></p>
<p><strong>Seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada</strong> mengakhiri hidupnya hanya karena tidak mampu membeli sebuah pena. Peristiwa ini sering dipandang sekadar tragedi personal. Padahal, jika dibaca lebih jujur, ia adalah potret telanjang dari sistem pendidikan yang sejak awal tidak pernah benar-benar gratis.</p>
<p><strong>Seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada</strong></p>
<p><strong>Sekolah di Indonesia tidak pernah gratis.</strong> Yang ada hanyalah beasiswa, bantuan operasional, dan subsidi terbatas—dengan syarat administratif yang rumit dan daya jangkau yang tidak merata.</p>
<p><strong>Program BOS, PIP, KIP, atau bantuan sejenis tidak otomatis menghapus biaya: </strong><br />
<strong>&#8211; alat tulis </strong><br />
<strong>&#8211; seragam </strong><br />
<strong>&#8211; buku pendamping </strong><br />
<strong>&#8211; iuran kegiatan </strong><br />
<strong>&#8211; biaya tidak resmi yang kerap tak tercatat</strong></p>
<p><strong>Bagi keluarga miskin</strong>, justru biaya-biaya kecil inilah yang paling mematikan. Ia tidak masuk laporan, tetapi hadir setiap hari di ruang kelas.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
