<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Opini Oleh: Antonius Ratu Gah &#8211; timor-raya.com</title>
	<atom:link href="https://timor-raya.com/tag/opini-oleh-antonius-ratu-gah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<description>Cahaya Timorraya Menerangi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Feb 2026 12:11:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://timor-raya.com/wp-content/uploads/2024/09/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Opini Oleh: Antonius Ratu Gah &#8211; timor-raya.com</title>
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Negara Ikut Puasa, atau Minimal Berhenti Ngemil Kepercayaan Rakyat, Legalitas Sah, Kepercayaan Surut</title>
		<link>https://timor-raya.com/opini/negara-ikut-puasa-atau-minimal-berhenti-ngemil-kepercayaan-rakyat-legalitas-sah-kepercayaan-surut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[timor-raya.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2026 06:41:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[atau Minimal Berhenti Ngemil Kepercayaan Rakyat]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum kita tidak kekurangan pasal. Yang sering kurang justru kepekaan.]]></category>
		<category><![CDATA[Kepercayaan Surut]]></category>
		<category><![CDATA[Legalitas Sah]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Ikut Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Oleh: Antonius Ratu Gah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://timor-raya.com/?p=3225</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Opini Oleh: Antonius Ratu Gah Negara ibarat tamu di rumah rakyat. Ia datang membawa&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Opini Oleh: Antonius Ratu Gah</strong></p>
<p><strong>Negara ibarat tamu di rumah rakyat. Ia datang membawa janji, disambut dengan kepercayaan, lalu diberi ruang untuk duduk dan makan</strong>. Namun bila tamu itu terus mengambil makanan tanpa tahu diri, tuan rumah akan kehilangan hormat. Begitulah <strong>negara kita: terlalu sering “makan”</strong> kewenangan dan “minum” kepercayaan rakyat, hingga lupa bahwa yang paling penting bukan kenyang, melainkan menjaga hubungan baik dengan rakyat sebagai tuan rumah.</p>
<p><strong>Polemik pelantikan ribuan ASN di Kabupaten Kupang Kupang menjadi contoh nyata</strong>. <strong>Di atas kertas, semuanya sah. Prosedur terpenuhi, dokumen lengkap, tanda tangan ada. Tetapi di bawah langit, rakyat membaca hal lain: rasa keadilan yang terganggu, rasa percaya yang terkikis</strong>. <strong>Negara seakan puas hanya dengan stempel “sah,” padahal rakyat menunggu jawaban atas pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ini pantas</strong>?</p>
<p><strong>Hukum</strong> <strong>kita tidak kekurangan pasal</strong>. <strong>Yang sering kurang justru kepekaan</strong>. Negara tahu kapan keputusan berlaku, tetapi lambat tahu kapan kepercayaan surut. Padahal kepercayaan, sekali surut, tidak mudah pasang kembali. <strong>Di sinilah relevansi puasa: bukan menahan lapar, melainkan menahan diri. Menahan diri untuk tidak menggunakan semua kekuasaan hanya karena tersedia. Menahan diri untuk tidak berlindung di balik kata “sah,” sambil menutup telinga dari kata “adil.”</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
