<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejak 1999 &#8211; timor-raya.com</title>
	<atom:link href="https://timor-raya.com/tag/sejak-1999/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<description>Cahaya Timorraya Menerangi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Feb 2026 11:41:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://timor-raya.com/wp-content/uploads/2024/09/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Sejak 1999 &#8211; timor-raya.com</title>
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sejak 1999, Pergantian Gubernur Tak Mampu Menghapus Dahaga Warga Ibu Kota NTT, Kepala Biro Ekonomi Bungkam</title>
		<link>https://timor-raya.com/hukum-kriminal/sejak-1999-pergantian-gubernur-tak-mampu-menghapus-dahaga-warga-ibu-kota-ntt-kepala-biro-ekonomi-bungkam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[timor-raya.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2026 11:41:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[— Seperti lansia yang menunggu air di sumur tua]]></category>
		<category><![CDATA[dahaga tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Biro Ekonomi Bungkam]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Biro Ekonomi Pemerintah Provinsi NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Kupang NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Pergantian Gubernur Tak Mampu Menghapus Dahaga Warga Ibu Kota NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Sejak 1999]]></category>
		<category><![CDATA[Selvi Nange]]></category>
		<category><![CDATA[surat resmi berisi daftar pertanyaan kepada Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melalui Kepala Biro Ekonomi pada 19 Januari 2026]]></category>
		<category><![CDATA[warga Kupang terus menanti aliran air bersih yang tak kunjung datang. Dua dekade lebih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://timor-raya.com/?p=3269</guid>

					<description><![CDATA[Kota Kupang-NTT, — Seperti lansia yang menunggu air di sumur tua, warga Kupang terus menanti&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kota Kupang-NTT, — Seperti lansia yang menunggu air di sumur tua, warga Kupang terus menanti aliran air bersih yang tak kunjung datang. Dua dekade lebih, dahaga tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur</strong>.</p>
<p><strong>Kepala Biro Ekonomi Pemerintah Provinsi NTT, Selvi Nange, dikonfirmasi oleh Redaksi Timor Raya melalui telepon dan pesan WhatsApp</strong>, namun hingga kini belum memberikan jawaban terkait krisis air bersih di Kota Kupang.</p>
<p>Redaksi Timor Raya sebelumnya telah menyampaikan surat resmi berisi daftar pertanyaan kepada <strong>Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melalui Kepala Biro Ekonomi pada 19 Januari 2026</strong>. Surat yang dikirim melalui pesan WhatsApp tersebut menyoroti persoalan pelayanan air bersih yang sejak 1999 hingga kini belum teratasi, meski terjadi pergantian gubernur berkali-kali.</p>
<p><strong>Dalam surat itu, Media Timor Raya menanyakan sejumlah hal, antara lain:</strong></p>
<p><strong>&#8211; Tugas dan kewenangan provinsi dalam menjamin pelayanan air bersih di Kota Kupang.</strong></p>
<p><strong>&#8211; Langkah konkret Pemerintah Provinsi NTT mendukung PDAM Kota Kupang.</strong></p>
<p><strong>&#8211; Kondisi jaringan pipa dan sumber air baku.</strong></p>
<p><strong>&#8211; Alokasi anggaran sektor air bersih dalam lima tahun terakhir untuk membantu Pemerintah Kota Kupang.</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tempayan Kosong di Ibu Kota Provinsi NTT: Air Gratis dari Langit, Hilang di Pipa Pemerintah</title>
		<link>https://timor-raya.com/opini/tempayan-kosong-di-ibu-kota-provinsi-ntt-air-gratis-dari-langit-hilang-di-pipa-pemerintah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[timor-raya.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2026 03:31:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hilang di Pipa Pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[jawaban tak kunjung datang. Diamnya pemerintah daerah atas daftar pertanyaan ini menambah rasa haus publik akan transparansi dan akuntabilitas. Warga Kupang berhak tahu]]></category>
		<category><![CDATA[ketika air itu harus ditampung ke tempayan warga kota]]></category>
		<category><![CDATA[pergantian pemimpin tak mampu menghapus dahaga 482 ribu jiwa di Kupang. Editorial Timor Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejak 1999]]></category>
		<category><![CDATA[Seperti air yang mengalir bebas dari langit sebagai hujan]]></category>
		<category><![CDATA[tangan pemerintah justru membuat alirannya tersendat.]]></category>
		<category><![CDATA[Tempayan Kosong di Ibu Kota NTT: Air Gratis dari Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan telah memberi secara cuma-cuma. Namun ironisnya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://timor-raya.com/?p=2844</guid>

					<description><![CDATA[Sejak 1999, pergantian pemimpin tak mampu menghapus dahaga 482 ribu jiwa di Kota Kupang. Editorial&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sejak 1999, pergantian pemimpin tak mampu menghapus dahaga 482 ribu jiwa di Kota Kupang.</strong></p>
<p><strong>Editorial Timor Raya </strong></p>
<p><strong>Seperti sebuah orkestra tanpa konduktor, suara rakyat tentang krisis air bersih di Kota Kupang terus bergema, namun tak kunjung menemukan harmoni jawaban dari para pemimpin daerah.</strong></p>
<p><strong>Surat resmi yang telah dikirimkan Redaksi Timor Raya kepada Gubernur NTT dan Walikota Kupang</strong> berisi daftar pertanyaan mendasar tentang pelayanan air bersih, hingga kini belum ditanggapi. Padahal, pertanyaan itu bukan sekadar formalitas, melainkan cermin dari dahaga panjang warga ibu kota provinsi.</p>
<p><strong>Sejak 1999, pergantian gubernur dan walikota Kupang tidak mampu menghapus krisis air bersih yang menjerat 482.734 jiwa. Dua dekade lebih, air bersih tetap menjadi barang langka, sementara janji pembangunan terus berganti wajah.</strong></p>
<p>Pertanyaan publik sederhana: mengapa kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi prioritas, justru dibiarkan menjadi beban harian masyarakat?</p>
<p><strong>Redaksi Timor Raya telah menanyakan hal-hal mendasar</strong>:<br />
&#8211; <em><strong>Bagaimana makna tugas dan kewenangan provinsi dan Walikota Kupang dalam menjamin pelayanan air bersih? </strong></em><br />
<em><strong>&#8211; Apa langkah konkret yang sudah dilakukan pemerintah untuk mendukung PDAM? </strong></em><br />
<em><strong>&#8211; Mengapa anggaran dan kebijakan belum menempatkan air bersih sebagai prioritas utama? </strong></em><br />
<em><strong>&#8211; Bagaimana strategi jangka panjang menghadapi perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk?</strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
