<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Terlapor adalah Jesica S. Sodakain. Pelapor Riesta Ratna Megasari melalui kuasa hukumnya &#8211; timor-raya.com</title>
	<atom:link href="https://timor-raya.com/tag/terlapor-adalah-jesica-s-sodakain-pelapor-riesta-ratna-megasari-melalui-kuasa-hukumnya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<description>Cahaya Timorraya Menerangi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Mar 2026 03:32:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://timor-raya.com/wp-content/uploads/2024/09/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Terlapor adalah Jesica S. Sodakain. Pelapor Riesta Ratna Megasari melalui kuasa hukumnya &#8211; timor-raya.com</title>
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>No Viral No Justice? Kuasa Hukum Kritik Penyidik Polresta Kupang dalam Kasus Dapur MBG</title>
		<link>https://timor-raya.com/hukum-kriminal/no-viral-no-justice-kuasa-hukum-kritik-penyidik-polresta-kupang-dalam-kasus-dapur-mbg/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[timor-raya.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2026 03:32:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Fransisco Besie]]></category>
		<category><![CDATA[Fransisco Besie menilai aparat hukum baru bergerak jika kasus viral]]></category>
		<category><![CDATA[menilai penyidik ragu memeriksa tim SPPG Polda NTT.]]></category>
		<category><![CDATA[No Viral No Justice? Kuasa Hukum Kritik Penyidik Polresta Kupang dalam Kasus Dapur MBG]]></category>
		<category><![CDATA[proyek dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPN Polda NTT]]></category>
		<category><![CDATA[sementara kerugian Rp97 juta yang dialami kliennya masih belum mendapat kepastian hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Terlapor adalah Jesica S. Sodakain. Pelapor Riesta Ratna Megasari melalui kuasa hukumnya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://timor-raya.com/?p=3332</guid>

					<description><![CDATA[Fransisco Besie menilai aparat hukum baru bergerak jika kasus viral, sementara kerugian Rp97 juta yang&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fransisco Besie menilai aparat hukum baru bergerak jika kasus viral, sementara kerugian Rp97 juta yang dialami kliennya masih belum mendapat kepastian hukum.</strong></p>
<p><strong>Kota Kupang-NTT</strong>, &#8212; Seperti pesawat jet tempur yang dituntut melesat cepat dan tepat sasaran, penanganan kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana proyek dapur <strong>Makan Bergizi Gratis (MBG</strong>) di <strong>SPN Polda NTT</strong> justru dinilai lamban dan ragu. Kuasa hukum pelapor menuding penyidik Polresta Kupang Kota takut memanggil dan memeriksa tim <strong>SPPG Polda NTT</strong>, meski kasus ini telah bergulir sejak 2025.</p>
<p>Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana pembangunan dapur <strong>MBG</strong> dengan kerugian Rp97.876.000 masih mandek di Polresta Kupang Kota.</p>
<p><strong>Terlapor adalah Jesica S. Sodakain. Pelapor Riesta Ratna Megasari melalui kuasa hukumnya, Fransisco Besie, menilai penyidik ragu memeriksa tim SPPG Polda NTT.</strong></p>
<p>Kasus bermula pada Maret 2025, dilaporkan resmi ke Polresta Kupang Kota pada 10 September 2025, dan hingga Maret 2026 belum tuntas.</p>
<p>Tawaran kerja sama terjadi di Kupang, dengan proyek dapur <strong>MBG</strong> berlokasi di <strong>SPN</strong> <strong>Polda NTT</strong>.</p>
<p>Pelapor mengaku ditipu melalui tawaran kerja sama pembangunan dapur <strong>MBG</strong> dengan janji keuntungan besar. Dana yang diserahkan tidak dikembalikan sesuai kesepakatan, sementara aparat hukum dinilai lamban dan terkesan menunggu kasus viral.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
