<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Turbulensi Hukum 2025 &#8211; timor-raya.com</title>
	<atom:link href="https://timor-raya.com/tag/turbulensi-hukum-2025/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<description>Cahaya Timorraya Menerangi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 May 2026 06:42:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://timor-raya.com/wp-content/uploads/2024/09/cropped-512-32x32.png</url>
	<title>Turbulensi Hukum 2025 &#8211; timor-raya.com</title>
	<link>https://timor-raya.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kejari Kupang Nekat! Kasasi Putusan Bebas Ruben Tahik Padahal Dilarang UU, Langgar Pendapat Prof Eddy Hiariej dan Prof Reda Mantovani</title>
		<link>https://timor-raya.com/hukum-kriminal/kejari-kupang-nekat-kasasi-putusan-bebas-ruben-tahik-padahal-dilarang-uu-langgar-pendapat-prof-eddy-hiariej-dan-prof-reda-mantovani/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[timor-raya.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 06:36:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Sebagai Panglima]]></category>
		<category><![CDATA[Kasasi Dilarang UU]]></category>
		<category><![CDATA[Kepatuhan Penegak Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Hukum Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Turbulensi Hukum 2025]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://timor-raya.com/?p=3564</guid>

					<description><![CDATA[Mengajukan kasasi jelas tabrak Pasal 361 Huruf D dan pasal 299 UU 20/2025, abaikan aturan&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Mengajukan kasasi jelas tabrak Pasal 361 Huruf D dan pasal 299 UU 20/2025, abaikan aturan baru, dan bantah pendapat hukum atasannya sendiri.</strong></em></p>
<p><strong>KUPANG-TIMOR-RAYA  –</strong> Dunia hukum di Nusa Tenggara Timur kembali diguncang fenomena yang sangat ironis dan memprihatinkan. <strong>Kepala Kejaksaan Negeri</strong> (<strong>Kejari</strong>) <strong>Kupang</strong>, <strong>Yupiter Selan</strong>, atas <strong>perintah Kejaksaan Tinggi</strong> (<strong>Kejati</strong>) <strong>NTT</strong>, nekat mengajukan upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas yang dijatuhkan <strong>Majelis Hakim Tipikor Pengadilan Negeri Kelas I Kupang kepada Ruben Yohanis Tahik</strong>. Langkah ini diambil dengan dalih bahwa berkas perkara dilimpahkan ke pengadilan pada Desember 2025, saat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 (KUHAP Lama) masih berlaku.</p>
<p>Namun, penelusuran hukum mendalam membuktikan sebaliknya: langkah ini bukan sekadar kesalahan tafsir, melainkan <strong>perlawanan terang-terangan terhadap Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025</strong> <strong>tentang KUHAP Baru</strong>, melanggar <strong>prinsip Negara Hukum dalam UUD 1945</strong>, serta secara mencengangkan bertentangan langsung dengan pendapat hukum yang ditulis dan disusun sendiri oleh atasannya di Jakarta, bahkan <strong>mengabaikan kehendak seluruh rakyat Indonesia yang diwakili DPR RI.</strong></p>
<p><em><strong>PENERBANGAN LIAR DI LANGIT YANG SUDAH DITUTUP</strong></em></p>
<p>&#8220;Ibarat sebuah <strong>armada udara</strong> yang <strong>dipimpin petugas penerbangan, Kejaksaan Negeri Kupang dengan nekat memaksa pesawat perkara Ruben Tahik untuk kembali mengudara</strong>, padahal pesawat itu <strong>sudah mendarat dengan selamat, aman, dan sah di landasan keadilan melalui putusan bebas Hakim Tipikor</strong>. Yang lebih gila dan mengundang bahaya, mereka menerbangkan pesawat itu justru <strong>melawan arah, masuk ke jalur yang sudah dipagari, diblokir, dan dinyatakan tertutup total oleh Peta Rute Hukum Nasional: UU No.20 Tahun 2025.</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SERUuu..! Tanggapan Ahli Hukum Dedy Manafe: Upaya Kasasi Kejari Kupang Atas Putusan Bebas Ruben Tahik Melanggar UUD 1945 dan UU No.20 Tahun 2025</title>
		<link>https://timor-raya.com/hukum-kriminal/seruuu-tanggapan-ahli-hukum-dedy-manafe-upaya-kasasi-kejari-kupang-atas-putusan-bebas-ruben-tahik-melanggar-uud-1945-dan-uu-no-20-tahun-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[timor-raya.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 02:03:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Sebagai Panglima]]></category>
		<category><![CDATA[Kasasi Dilarang UU]]></category>
		<category><![CDATA[Kepatuhan Penegak Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Negara Hukum Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Turbulensi Hukum 2025]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://timor-raya.com/?p=3558</guid>

					<description><![CDATA[KUPANG- TIMOR-RAYA – Langkah Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kupang, Yupiter Selan, yang mengajukan upaya hukum&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KUPANG- TIMOR-RAYA –</strong> Langkah Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Kupang, <strong>Yupiter Selan</strong>, yang mengajukan upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas <strong>Ruben Yohanis Tahik</strong> atas perintah langsung <strong>Kejaksaan Tinggi (</strong>Kejati) <strong>Nusa Tenggara Timur</strong>, menuai kritik keras dari kalangan <strong>akademisi dan ahli hukum. Dedy Manafe,</strong> <strong>Ahli Hukum Pidana dari Universitas Nusa Cendana</strong> (Undana) Kupang, kepada Media ini melalui pesan WhatsApp,17 Mei 2026, menegaskan langkah tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap aturan hukum acara pidana baru sekaligus menginjak prinsip dasar Negara Hukum yang diamanatkan UUD 1945.</p>
<p>Menurut <strong>Dedy Manafe</strong>, dalih Kejaksaan yang menyatakan berkas dilimpahkan sebelum UU No.20 Tahun 2025 berlaku sehingga masih menggunakan hukum lama, adalah pemahaman yang keliru dan salah kaprah. <strong>Berdasar Pasal 361 Huruf d KUHAP Baru, yang menjadi patokan adalah kapan persidangan dilaksanakan, bukan kapan berkas masuk</strong>. Karena <strong>seluruh proses sidang dan putusan jatuh setelah 2 Januari 2026</strong>, maka aturan mutlak <strong>yang berlaku adalah KUHAP Baru</strong>, yang di dalam Pasal 299 Ayat (2) Huruf a secara tegas melarang segala upaya hukum termasuk kasasi terhadap putusan bebas.</p>
<p>Posisi hukum ini semakin dipertegas oleh pernyataan resmi <strong>Wakil Menteri Hukum dan HAM</strong> yang menyatakan: &#8220;<strong>Terhadap putusan bebas, mutlak tidak boleh ada upaya hukum apa pun, aturan ini tegas dan tidak memberi ruang tafsir lain</strong>. Putusan bebas berarti selesai, sah, dan wajib dihormati.&#8221; Hal senada juga ditegaskan <strong>Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: &#8220;Berdasarkan KUHAP Baru, putusan bebas bersifat final. Jaksa tidak boleh lagi mencari celah teori lama seperti bebas tidak murni</strong>. Memaksakan kasasi sama saja <strong>melanggar undang-undang.&#8221;</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
