Kritik sebagai Pilar Kesopanan Politik

Reporter: NU 
| Editor: Redaksi Timor Raya
Foto: Ilustrasi

Melarang Kritik, Itulah Ketidaksopanan Politik”
Upaya membungkam kritik justru mencerminkan ketidaksopanan politik. Melarang kritik berarti menutup ruang dialog, menolak transparansi, dan merendahkan hak rakyat untuk bersuara. Demokrasi kehilangan makna apabila kritik dianggap ancaman, bukan sebagai masukan yang membangun.

Kritik di Media Publik, Jawab di Media Publik
Kritik yang disampaikan melalui media publik harus pula dijawab di ruang publik. Mengajak pengkritik bertemu secara tertutup hanya mengurangi nilai akuntabilitas. Publik berhak mengetahui bagaimana pejabat menanggapi kritik, sebab jawaban tersebut bukan milik pribadi, melainkan milik rakyat.

 

Suara Tokoh Nasional dan Internasional

– Soekarno: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengakui kesalahan dan berani melakukan kritik terhadap dirinya sendiri.”
– Abdurrahman Wahid (Gus Dur): menegaskan bahwa demokrasi sejati hanya bisa hidup jika kritik dan kebebasan berpendapat dijamin sepenuhnya.
– John Stuart Mill: “Jika seluruh umat manusia memiliki satu pendapat, dan hanya satu orang berbeda, umat manusia tidak berhak membungkam orang itu.”
– Alexis de Tocqueville: “Kekuatan utama demokrasi bukan terletak pada mayoritas, melainkan pada kebebasan individu untuk mengkritik mayoritas itu sendiri.”
– George Orwell: “Jika kebebasan berarti sesuatu, maka itu adalah hak untuk mengatakan kepada orang lain hal-hal yang tidak ingin mereka dengar.”

Pos terkait