“Kita tidak bisa terus menerus.mengandalkan bronjong untuk menahan abrasi sungai. Sedimen yang menumpuk harus dikelola agar aliran sungai kembali ke jalurnya semula,” Kata Emi.
Ini tidak hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga keberlangsungan hidup masyarakat, khususnya para petani,” ujar Emilia yang juga ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi NT.
Ia juga menyinggung kondisi keuangan daerah yang masih belum stabil. Infrastruktur di seluruh Indonesia, termasuk di NTT, berada dalam kondisi “nol” karena masih bergantung pada APBD. Namun, kepastian pendapatan daerah pun masih menjadi tantangan, sehingga sangat sulit untuk merencanakan anggaran yang memadai.
“Pemerintah daerah harus berpikir kreatif dalam mencari solusi, termasuk dengan mengajukan bantuan ke pemerintah pusat. Kita berharap ada intervensi dari pusat untuk menangani persoalan ini, terutama karena sawah adalah sumber utama penghidupan warga Linamnutu,” tambahnya.
Lebih lanjut Emilia yang sering dijuluki Mama Berambut Putih itu menekankan bahwa saat ini sudah banyak infrastruktur yang membutuhkan dana Bantuan Tidak Terduga (BTT) untuk perbaikan mendesak. Namun, jumlahnya sangat terbatas. Oleh karena itu, ia berharap agar pemerintah pusat dapat melihat kondisi ini dan mengalokasikan anggaran yang memadai.
