“Apa yang menjadi kekurangan di tempat pengungsian, bisa sampaikan juga melalui pak DPRD Habel Mbate untuk diteruskan ke lurah, camat dan OPD terkait,”tambah Yos Lede
Sementara Meri Mojo, Tenaga Kerja Sosial Kemensos RI Kecamatan Takari, yang ditemui Prokopim di lokasi pengungsian, menceritakan bahwa saat kejadian dia orang pertama yang dihubungi korban bencana. Ia pun langsung menghubungi Kepala Dinas Sosial Paul Liu. Tidak lebih dari 1 kali 24 jam, Pemerintah Kabupaten Kupang melalui Dinas Sosial dan BPBD segera memberikan bantuan. Para korban longsor, mengungsi sementara di Aula Sobe Sonbai III Kecamatan Takari.
Sambung Meri, dari 35 KK korban longsor, rumah terdampak longsor sebanyak sembilan dan 26 rumah termasuk terancam. Bagi yang korban rumahnya terancam longsor, anak-anak, ibu-ibu dan lansia di evakuasi ke Aula Sobe. Dikatakan terancam kata Meri, karena masih terasa ada pergerakan tanah, perlu untuk berjaga-jaga. “Begitu menyedihkan saat korban lansia dan disabilitas di evakuasi, mereka tidak bisa bergerak. Ini longsor terbesar dari tahun 2022. Saat itu hanya satu rumah saja yang tertutup tanah. Kali ini sembilan rumah terdampak tertutup tanah,”katanya.
Ia menyebut bahwa bantuan yang diberikan Pemkab Kupang, terpenuhi secara baik. Air bersih, makan minum terjamin, ada dapur umum, MCK (Mandi, Cuci, Kakus) tersedia, peralatan mandi semua dikasih.
