“Semua persiapan sudah beres, tinggal menunggu koneksi sistem komputer dengan Kementerian Keuangan. Kami optimis akhir bulan ini proses tersebut selesai, sehingga awal Juni nanti penyaluran KUR Bank NTT sudah bisa berjalan kembali,” jelasnya.
Pembelajaran dari pengalaman masa lalu menjadi perhatian utama manajemen. Charlie menegaskan, ke depannya penyaluran kredit akan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan selektivitas yang jauh lebih ketat. Penghentian program KUR sebelumnya dipicu oleh tingginya angka kredit bermasalah atau macet, sehingga perbaikan sistem dan mekanisme penyaluran menjadi prioritas utama agar sejarah buruk tersebut tidak terulang.
“Dulu kredit macet cukup banyak, itu menjadi pengalaman pahit bagi kami. Oleh karena itu, sistem kami perbaiki total dan penyaluran akan jauh lebih selektif. Kami ingin memastikan dana tersebut tepat sasaran dan aman,” tegas Charlie.
Pada pelaksanaan tahun ini, Bank NTT menyediakan dua skema jenis KUR, yaitu KUR Mikro dengan plafon hingga Rp100 juta tanpa persyaratan agunan, serta KUR Kecil dengan plafon kredit mencapai Rp500 juta yang disertai dengan jaminan.
Penyaluran KUR ini secara khusus akan difokuskan pada sektor-sektor usaha produktif, antara lain pertanian, peternakan, dan berbagai usaha ekonomi rakyat lainnya yang memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Pihaknya juga menegaskan larangan tegas penggunaan kredit untuk kebutuhan konsumtif.





