Sebelum laporan ini muncul, Fransisco sempat menjadi sorotan karena mengungkap dugaan pemerasan dalam sidang Tipikor terkait pembangunan gedung sekolah tahun 2021. Ia menyebut adanya aliran dana hingga ratusan juta rupiah yang melibatkan sejumlah oknum penegak hukum. Pernyataan itu diperkuat dengan bukti rekaman suara kliennya.
Kuasa hukum Gusti Pisdon, Nikolas Ke Lomi, menilai tuduhan Fransisco adalah kebohongan yang merusak reputasi. Sementara Bildat Torino Thonak menyebutnya sebagai fitnah keji yang tidak pernah terungkap dalam fakta persidangan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak media masih berupaya mengonfirmasi nama-nama jaksa yang disebut, namun belum mendapat tanggapan resmi.
Epilog Editorial
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang sidang bukan sekadar arena adu argumentasi, melainkan panggung moral di mana integritas diuji. Tuduhan dan bantahan harus ditimbang dengan hati-hati, agar hukum tidak berubah menjadi senjata yang melukai martabat manusia. Edukasi publik tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas adalah bagian dari menjaga kepercayaan terhadap sistem peradilan.
Seperti pesawat yang bersiap mendarat, proses hukum ini menuntut navigasi yang presisi. Jika radar keadilan dijaga dengan empati dan integritas, pesawat hukum NTT akan mendarat dengan selamat di landasan kepercayaan publik. Namun jika kendali disalahgunakan, turbulensi bisa menjatuhkan pesawat itu sebelum mencapai tujuan.
