Kota Kupang, NTT – Malam di Jalan Beringin Merah, Kelurahan Kayu Putih, Kota Kupang NTT, biasanya sunyi. Lampu jalan temaram, suara jangkrik bersahutan, dan deru kendaraan jarang sekali terdengar. Namun pada dini hari Selasa (2/12/2025), kesunyian itu pecah oleh jeritan seorang mahasiswi berinisial F (20).
Malam yang Berubah Jadi Mimpi Buruk
F, mahasiswi semester tiga, sedang tertidur lelap di kamar kos sederhana yang ia sewa. Kos itu, dengan jendela kayu yang sering dibiarkan tak terkunci, menjadi saksi bisu ketika A (23), kakak semesternya yang mabuk sopi, tiba-tiba masuk.
“Dia langsung menindih saya. Saya kaget sekali, berteriak sekuat tenaga,” kata F dengan suara bergetar, matanya masih menyimpan bayangan ketakutan.
A berusaha membungkam mulutnya, tetapi F terus melawan. Jeritan itu akhirnya membuat A panik dan melarikan diri.
Lingkungan Kos yang Rentan
Kos-kosan di Kayu Putih adalah rumah kedua bagi banyak mahasiswa perantau. Dinding tipis, jendela yang mudah dibuka, dan pintu yang kadang tak terkunci membuat penghuni rentan terhadap ancaman.
“Mahasiswa di kos sering dianggap bisa menjaga diri sendiri. Padahal, mereka juga butuh lingkungan yang aman,” ujar seorang teman F yang enggan disebutkan namanya.





