Turbulensi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Ancam Kelancaran Eksekusi APBD Se‑Indonesia

Reporter: Adrianus Ndu Ufi  
| Editor: Redaksi Timor Raya

Tekanan yang dialami mata uang Rupiah belakangan ini bukan sekadar pergerakan angka di pasar keuangan, melainkan telah berdampak nyata pada seluruh aspek pengelolaan keuangan daerah. Berdasarkan pantauan pengamat ekonomi daerah dan pengakuan  Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) yang diwawancarai mengatakan, pelemahan rupiah hingga menyentuh level psikologis Rp18.000 per Dolar AS langsung memicu ketimpangan tajam antara sisi pendapatan dan beban belanja pemerintah daerah.

Pendapatan Daerah Tertekan, Potensi Tak Sesuai Target

Bacaan Lainnya

Di sisi pendapatan, pelemahan nilai tukar berdampak langsung terhadap penurunan kinerja penerimaan daerah. Meningkatnya biaya produksi dan logistik akibat meroketnya harga bahan bakar minyak, semen, besi baja, obat‑obatan, serta peralatan teknis yang sebagian besar komponennya masih bergantung pada impor, memukul daya beli masyarakat dan keuntungan pelaku usaha. Akibatnya, potensi penerimaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai komponen utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) sulit mencapai target yang telah ditetapkan sejak awal penyusunan anggaran.

Tidak hanya itu, ketatnya ruang fiskal pemerintah pusat akibat membesarnya beban subsidi, bunga utang luar negeri, dan kebutuhan impor barang strategis ditengarai turut memengaruhi kepastian pencairan dana transfer ke daerah. Sebagian besar pendapatan daerah yang bergantung pada Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) kini menghadapi risiko penundaan bahkan penyesuaian nilai, yang semakin memperparah kondisi keuangan daerah.

Pos terkait