Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pesawat yang kehilangan arah. Apakah proses hukum yang sudah berjalan, yang telah memeriksa puluhan saksi dan ahli, akan dikorbankan di atas meja keputusan partai politik? Apakah keadilan Dokter Icha akan ditunda, ditahan, bahkan dihentikan oleh keputusan yang tidak diambil di pengadilan, melainkan di ruang rapat partai?
Ini bukan sekadar soal tiga kursi di DPRD TTU. Ini soal apakah nyawa Dokter Icha dan keadilan hukum bisa diatur ulang oleh keputusan politik.
Epilog editorial
Dua narasi kini beradu di udara Jakarta. Di satu sisi, keluarga Dokter Icha berteriak: PAW sekarang juga, jangan biarkan pelaku duduk tenang. Di sisi lain, pembela tersangka bertanya: apakah ini permainan kursi atau penghentian keadilan? Yang harus kita ingat adalah ini: Proses pidana di pengadilan tidak boleh menunggu keputusan partai politik. Kode etik partai tidak menggantikan hukum negara. Dokter Icha gugur karena dugaan intimidasi di ruang medis. Keadilannya tidak boleh diintimidasi lagi oleh keputusan politik. Biarkan hukum berjalan sendiri. Jangan jadikan PAW sebagai tameng untuk mempercepat pergantian, dan jangan jadikan partai sebagai alasan untuk menghentikan penyidikan. Pesawat kehidupan harus mendarat dengan kebenaran, bukan dengan kompromi. Rakyat sedang menonton, dan kebenaran tidak boleh ditawar.***
