Respon Cepat Warga dan Aparat
Setelah kejadian, F melapor kepada ketua RT. Ketua RT segera menghubungi Bhabinkamtibmas Kelurahan Kayu Putih, Aipda Jefri Banunaek, dan tak lama kemudian piket Pamapta Polresta Kupang Kota datang mengamankan A.
“Korban mengalami ketakutan dan trauma. Kami berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak,” kata Leyfrid, warga yang ikut membantu.
Trauma yang Membekas
Sejak malam itu, F mengaku sulit tidur. Setiap suara di luar kamar membuatnya gelisah. “Saya takut kalau kejadian itu terulang lagi. Rasanya tidak tenang tinggal di kos,” katanya lirih.
Warga berusaha memberi dukungan moral, namun trauma bukan hal yang mudah hilang. Butuh waktu, perhatian, dan rasa aman agar F bisa kembali menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa.
Kasus ini bukan sekadar cerita kriminal. Ia adalah potret rapuhnya ruang aman bagi perempuan muda di kota perantauan. Tradisi minum sopi, yang sering dianggap bagian dari budaya, bisa berubah menjadi ancaman ketika tidak terkendali.
“Jangan biarkan sopi merenggut masa depan anak-anak muda kita,” tegas Leyfrid.
Jeritan F di kos Kayu Putih adalah alarm bagi kita semua. Bahwa menjaga keselamatan mahasiswa bukan hanya tugas individu, melainkan tanggung jawab bersama. Dari kamar kos sederhana itu, pesan bergema: setiap jeritan minta tolong harus menjadi panggilan bagi masyarakat untuk lebih peduli, lebih waspada, dan lebih berani melawan budaya yang bisa melahirkan kekerasan.
