Ia menambahkan, selama menjabat dirinya tidak pernah menerima sanksi disiplin maupun terlibat masalah hukum. Namun tiba-tiba namanya masuk dalam daftar mutasi massal.
“Saya ingin bertemu untuk klarifikasi hal ini ke Bapak Bupati, tapi belum bisa karena beliau masih banyak agenda kerja,” ujarnya.
Mutasi ke Amfoang Timur, lanjutnya, bukan sekadar perpindahan tugas, melainkan pukulan berat yang memisahkan dirinya dari keluarga.
“Mereka lebih dekat dengan orang besar, jadi kami yang menjadi korban,” ungkapnya lirih.
Laporan DPRD
Anggota DPRD Partai Hanura mengakui telah menyarankan Mel agar membangun komunikasi melalui Kepala Dinas, yang istrinya merupakan pendeta GMIT aktif, guna memfasilitasi klarifikasi.
Hingga berita ini diterbitkan, upaya media untuk mendapatkan konfirmasi resmi dari Bupati Kupang maupun Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Marthen Rahakbauw dan Pdt YA, namun belum berhasil. Media tetap membuka ruang hak jawab bagi pihak terkait.
Seperti pion yang dipaksa maju ke barisan paling depan tanpa perlindungan, mutasi ini bukan sekadar perpindahan tugas. Bagi Mel, ini adalah simbol pertanyaan besar: apakah aturan masih jadi pedoman, atau kepentingan pribadi yang mengendalikan papan permainan





