Seragam Baru, Harapan Baru Kota Kupang: Menghapus Minder di Ruang Kelas

Djunaidi juga menyoroti praktik pungutan di sekolah yang membebani orang tua. Ia mendesak agar Dana BOS benar-benar digunakan sesuai kebutuhan siswa.
“Kami masih mendapat laporan tentang hal miring di sekolah. Buku paket yang seharusnya dibiayai Dana BOS justru harus diadakan sendiri oleh keluarga. Ini wajib menjadi perhatian,” tegasnya.

Suara Masyarakat

Berbagai warga Kota Kupang menyuarakan hal senada, menegaskan bahwa program bantuan ini sangat dibutuhkan:

1. Marselina CM Koto, warga Bello:
“Program ini perlu diangkat kembali. Di pelosok, ada keluarga dengan 2–3 anak sekolah, tapi hanya mampu belikan seragam untuk satu anak. Pemerintah harus hadir.”

2.  Ibrita Lalangsir, Warga Maulafa:
“Banyak orang tua tidak mampu. Peristiwa di Ngada jadi bukti. Kalau pemerintah kembalikan program ini, kami sangat bersyukur.”

3. Adi Fatu, Warga Fatukoa:
“Kami mayoritas petani. Untuk beli seragam saja susah. Kalau ada bantuan, anak-anak bisa sekolah dengan layak. Program ini harus kembali.”

Penutup
Pendidikan adalah kereta api panjang yang membawa masa depan bangsa. Pemerintah sebagai masinis harus memastikan setiap gerbong—baik kelas eksekutif maupun ekonomi—tetap berjalan bersama. Seragam baru, buku tulis, dan tas sekolah adalah bahan bakar yang membuat gerbong ekonomi tidak tertinggal. Dengan hadirnya kembali program bantuan, kereta pendidikan akan melaju utuh, membawa semua anak menuju masa depan yang setara.

Pos terkait