Kata “Harus” Sering Terdengar Bijak, Namun Bisa Menyembunyikan Tekanan dan Menutup Ruang Dialog.
Redaksi Timor Raya
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menjumpai penggunaan kata “harus” dalam berbagai konteks. Kalimat seperti “Kamu harus sukses,” “Kita harus begini,” atau “Dia harus tahu diri” terdengar wajar, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian atau motivasi. Namun, di balik kesan rasional dan tegasnya, kata “harus” menyimpan potensi paksaan yang halus namun kuat. Ia dapat membatasi ruang berpikir, menutup kemungkinan, dan menciptakan ilusi bahwa hanya ada satu kebenaran yang sah.
Ilusi Kebenaran Tunggal
Penggunaan kata “harus” sering kali membawa serta asumsi bahwa hanya ada satu jalan yang benar. Dalam dunia pendidikan, misalnya, kita sering mendengar bahwa seseorang _harus_ masuk sekolah favorit, _harus_ memilih jurusan tertentu, atau _harus_ bekerja di bidang yang dianggap prestisius. Padahal, kenyataan menunjukkan bahwa jalan hidup manusia tidaklah tunggal. Banyak individu justru menemukan keberhasilan melalui jalur yang tidak konvensional.
Filsuf Prancis Michel Foucault pernah menyatakan, “Kebenaran bukanlah sesuatu yang harus ditemukan, tetapi sesuatu yang harus diciptakan.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak selalu bersifat absolut, melainkan merupakan konstruksi sosial yang terus berkembang.





