Wabub Kupang Aurum Titu Eki Apresiasi SLI Yang diselenggarakan Yayasan Cirms dan BMKG

Reporter: Wesly Lusi 

Bagi Rahmattulloh Adji, metode yang diajarkan dalam SLI ini lebih pada pelatihan dan diskusi tapi tidak menggurui. Langsung berinteraksi, melakukan simulasi-simulasi sehingga mudah dipahami dan di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Juga menerapkan Training of Trainer (TOT), yang mana peserta bisa menularkan ilmu kepada orang lain, serta mampu memberikan pengajaran pada level-level selanjutnya.

Sedangkan Yohanes Mangu Ladjar Direktur Yayasan Cirma menjelaskan, Sekolah Lapang Iklim bagi Komunitas Petani Kecil di Tahun 2025 digelar di enam Kabupaten/Kota yaitu Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu dan Malaka dengan total 6000 petani kecil.

“Di Kabupaten Kupang ada lima desa yang akan didampingi yaitu Silu, Camplong II, Raknamo, Tanah Merah dan Oeltua. Lima desa ini akan diberikan ruang berupa edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang sanitasi, air bersih, keadilan iklim, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, pertanian cerdas iklim dan pemberdayaan ekonomi bagi komunitas miskin dan miskin ekstrem,”terang Ladjar.

Dikatakan Yohanes Ladjar, petani kecil harus tangguh terhadap perubahan iklim. Kenapa petani kecil menjadi sasaran program ini, karena mereka lah yang paling banyak menerima dampak perubahan iklim. Mengakhiri sambutannya, Yohanes Ladjar inginkan, beberapa waktu kedepan, bisa dilakukan audiensi bersama Bupati dan Wakil Bupati Kupang untuk menyelaraskan program kerja CIRMA dengan program kerja pemerintah, dalam rangka mendukung visi dan misi Bupati dan Wabup Kupang.*

Pos terkait