Wabub Kupang Aurum Titu Eki Apresiasi SLI Yang diselenggarakan Yayasan Cirms dan BMKG

Reporter: Wesly Lusi 

Lanjut dijelaskan Aurum, pendekatan yang berbasis ilmu pengetahuan melalui SLI ini, tetap menghormati tradisi atau budaya yang sudah ada sebelumnya. “Adakala petani memprediksi tanda-tanda alam, kapan mulai menanam, kapan musim hujan. Kebiasaan atau pola lama tidak ada yang salah, namun tidak ada ruginya bila kita belajar dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang modern untuk menunjang sektor pertanian,”ujarnya.

Keiikutsertaan petani kecil dalam sekolah ini, menurut Aurum, memberikan pengetahuan lebih efektif dari yang tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, lebih paham untuk melihat, mengamati kondisi-kondisi cuaca yang ada.

“Petani dapat memahami dan memanfaatkan informasi iklim dengan baik, sehingga dapat menentukan waktu tanam dan pola tanam yang lebih tepat,”tutur Aurum.

Sementara Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II NTT, Rahmattulloh Adji, dalam sambutannya menyebut, kolaborasi dengan CIRMA terjalin di tahun 2025 dalam bentuk penandatanganan kerjasama, dengan komitmen bangun pemahaman iklim kepada petani kecil.

“Kiranya melalui sekolah ini, informasi iklim yang disampaikan kepada petani, dapat dibaca, diterjemahkan secara baik dari meteorologinya setiap jam, hari, termasuk prakiraan musim. Jangan sampai informasi yang diberikan, berlalu begitu saja, tidak paham apa yang dimaksud,”kata Adji.

Pos terkait