KUPANG- TIMOR RAYA – Pembangunan ibarat sebuah kendaraan besar yang seharusnya membawa masyarakat maju dan sejahtera. Namun bagi warga Amfoang, Fatuleu, dan sekitarnya, kendaraan itu seolah mogok total, ban kempes, dan ditinggalkan begitu saja di tengah jalan yang rusak parah. Padahal kendaraan ini sudah diklaim siap jalan bahkan diresmikan, tapi nyatanya tidak pernah menyentuh wilayah mereka. Akibatnya, warga harus berjalan kaki, menahan beban berat penderitaan, dan terisolasi dari dunia luar. Ketika akses jalan diputus, pasokan energi (BBM) dihambat, dan fasilitas kesehatan hanya jadi hiasan pinggir jalan, maka masyarakat tak punya pilihan lain selain bersuara keras agar kendaraan pembangunan itu kembali dijalankan demi keselamatan hidup mereka.”
Puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusiaan menggelar aksi demonstrasi damai pada Selasa (19/5/2026) di depan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur. Aksi ini dilaksanakan untuk menyampaikan berbagai keluhan dan aspirasi masyarakat dari wilayah Amfoang, Fatuleu, dan sekitarnya yang merasa terabaikan pembangunannya serta menghadapi berbagai permasalahan mendesak yang belum mendapatkan perhatian serius.
Dalam aksi tersebut, hadir perwakilan dari berbagai organisasi lokal, di antaranya Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kupang (PERMASKU), Ikatan Kaum Intelektual Fatuleu (IKIF), Persaudaraan Mahasiswa Amfoang Tengah (PERMASTENG), Persatuan Pelajar Mahasiswa Amfoang Timur (PERMATIM), Ikatan Pemuda Pelajar Amfoang Barat Daya (IPPJAR), Front Mahasiswa Nasional (FMN), Forum Solidaritas Belu (FOSMAB), serta Ikatan Mahasiswa Asal Amanuban (IKMABAN).





