sebelumnya, Wakil Bupati TTS, Johny Army Konay, S.H., M.H., yang turut meninjau lokasi bencana bersama Kepala BPBD TTS Yerry O. Nakamnanu dan Kepala Dinas Sosial Nikson Nomleni, memastikan bahwa pemerintah telah menyiapkan posko kesehatan, posko bencana, serta dapur umum.
“Kami terus memantau situasi dan berupaya mengevakuasi warga yang masih tertahan di lokasi terdampak,” kata Wakil Bupati.
Kepala Desa Kuatae, Parco P. Salem, menjelaskan bahwa retakan tanah pertama kali muncul sejak Desember 2022. Pada 12 Maret 2025, hujan deras menyebabkan tanah mulai bergeser hingga 300 meter dan berdampak pada puluhan rumah warga. Longsor yang semakin meluas pada 14 Maret telah merusak berbagai fasilitas umum, seperti kantor desa, aula, jaringan perpipaan air bersih, serta tiang dan kabel listrik.
Ia juga menyoroti buruknya sistem drainase di Kampung Sabu, terutama di lingkungan SMA PGRI Soe, sebagai salah satu penyebab utama bencana. “Masalah ini selalu dibahas dalam Musrenbang, tapi tidak ada tindak lanjut yang konkret. Baru setelah kejadian ini, pemerintah mulai mengerjakan saluran air, tetapi dampaknya sudah terlanjur besar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Politisi Asal Kabupaten TTS itu mendesak Bupati TTS segera mengeluarkan pernyataan resmi terkait status bencana untuk mempercepat penanganan oleh pemerintah di semua tingkatan.





