Astria menyebut OJK “terlalu lamban” dalam mengambil keputusan.
“Kita bicara tentang bank milik daerah, yang menopang ekonomi masyarakat. Kalau posisi direksi saja dibiarkan kosong terlalu lama, ini jelas merugikan kepentingan rakyat NTT,” tegasnya.
Terpisah Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Japarmen Manalu ketika dimintai tanggapannya terkait lambatnya proses fit and proper test mengatakan kewenangan itu ada di OJK Pusat.
“Itu kewenangan dan yang mengetahui persis adalah OJK Pusat,” jawab Japarmen Manalu.
Ia berharap semua proses bisa berjalan dengan baik sehingga direksi yang lolos bisa bekerja maksimal untuk mewujudkan visi misi Bank NTT secara baik.
“Kita ikuti saja dengan baik tahapan yang dilakukan OJK Pusat dan Pemegang Saham,” jawabnya singkat.
Desakan agar OJK segera mempercepat proses fit and proper test pun kian menguat. Publik menanti ketegasan regulator agar Bank NTT tidak tersandera dalam ketidakpastian. Pasalnya, tanpa kepastian struktur direksi, kecepatan pengambilan keputusan strategis bank akan terganggu, sementara kompetisi antar-bank terus berjalan ketat.
Kini, bola ada di tangan OJK. Apakah regulator segera memberi kepastian, atau membiarkan Bank NTT terus digantung tanpa arah yang jelas





