Bank NTT: Dari Menara Megah Menuju Penopang PAD

Reporter: Adrianus Ndu Ufi  
| Editor: Redaksi Timor Raya

Pada pertengahan Januari 2026, Direktur Utama Bank NTT Charlie Paulus mengatakan bahwa, setoran deviden tahun 2025 mengalami penurunan, karena sejumlah faktor dan salah satunya adalah karena pendapatan di bawah target. Deviden lebih kecil, pastinya profitnya lebih rendah. Profit itu hanya terdiri dari pendapatan dan biaya, artinya pendapatan di bawah target, biayanya di atas target, akibatnya profitnya jauh lebih rendah. Dirut juga menjelaskan bahwa, ada sejumlah faktor lain yang mempengaruhi pendapatan jauh di bawah target. Pertama, pertumbuhan kredit baru terjadi di akhir tahun 2025. Hal ini terjadi karena Bank NTT mulai bulan Mei (2025) setelah RUPS, pengurusnya belum jelas, sehingga mungkin di situlah manajemen kurang fokus sehingga kreditnya melambat.
Kedua, persoalan lain adalah ada kredit yang memburuk, sehingga cadangan harus ditambah, yang mana penambahan cadangan ini mengakibatkan ada kenaikan pada biaya. Ketiga, ada beberapa biaya yang sebelumnya itu tidak dibukukan atau dibebankan, sekarang, harus dibebankan, walaupun nanti neraca laba rugi kita kurang bagus, tapi ini suatu kenyataan.

Hal ini juga termasuk Bank NTT harus membayar kewajiban kepada Jamkrindo sebesar Rp. 7,3 miliar, dan kewajiban membayar pajak, sebab jika kita tidak membayar pajak maka kita tidak bisa menjalankan KUR, padahal sekarang kita sudah siap menjalankan KUR. Berdasarkan sejumlah uraian diatas maka, Bank NTT akan menambahkan target deviden untuk tahun 2026 menjadi Rp. 43,6 miliar dibanding setoran deviden tahun 2025 sebesar Rp. 29,6 miliar dari target sekitar 30 miliar lebih.

Pos terkait