Dari Desa Manusak, Kupang Timur, langkah kolektif petani dan pemerintah menyalakan semangat swasembada pangan, melompatkan produksi padi hingga puluhan ribu ton, dan meneguhkan komitmen daerah untuk menopang ketahanan pangan nasional.
Seperti benih yang ditanam di tanah kering lalu tumbuh menjadi bulir emas, Gerakan Tanam Padi Bersama di Desa Manusak, Kupang Timur, menjadi simbol harapan baru bagi ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur. Di tengah hamparan sawah, Bupati Kupang Yosef Lede menegaskan bahwa dari desa kecil inilah fondasi besar kedaulatan pangan bangsa sedang dibangun.
KUPANG TIMUR, NTT – Bupati kabupaten Kupang Yosef Lede dalam sambutannya pada acara Gerakan Tanam Padi Serentak Se-NTT, menekankan pentingnya pangan sebagai pondasi kedaulatan bangsa. Ia mengingatkan kembali masa pandemi COVID-19, ketika uang tak lagi berarti jika pangan tidak tersedia. “Kini dunia semakin tidak menentu, sehingga persiapan menyediakan pangan sebanyak mungkin adalah hal yang paling benar,” ujarnya.
Kabupaten Kupang memiliki potensi lahan yang luas: 64.739 hektar lahan potensial, 110.390 hektar lahan pertanian berkelanjutan, serta 15.000 hektar sawah baku. Dari angka itu, baru 53% yang digarap, namun hasilnya sudah mencengangkan. Produksi padi yang pada 2024 hanya 21.000 ton, melonjak drastis menjadi 87.000 ton dalam 10 bulan kerja tahun 2025. Target tahun ini bahkan dipatok melampaui 100.000 ton.





