“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas infrastruktur dan memastikan masyarakat berpenghasilan rendah memiliki akses terhadap layanan dasar yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Tantangan dan Efisiensi Anggaran
Melki mengakui pembangunan infrastruktur di NTT belum sepenuhnya merata. Kondisi geografis kepulauan, keterbatasan anggaran, serta kebutuhan sektor lain yang sama-sama mendesak membuat pemerintah provinsi harus mengambil langkah efisiensi.
“Secara aturan, porsi anggaran infrastruktur sekitar 40 persen. Tapi kalau dipaksakan, sektor lain bisa terabaikan. Pendidikan saja hampir menyerap 50 persen anggaran. Karena itu, kami melakukan efisiensi dan fokus pada kebutuhan paling mendesak,” jelasnya.
Prioritas 2025: Air Bersih, Jalan, dan Rumah Layak Huni
Pembangunan difokuskan pada tiga klaster wilayah: Timor–Rote, Flores–Alor, serta Sumba–Sabu Raijua. Program prioritas meliputi pembangunan sumur bor, peningkatan jalan dengan skema long segment, rekonstruksi jaringan air bersih, serta rehabilitasi infrastruktur dasar.
“Air bersih dan konektivitas jalan masih menjadi kebutuhan paling mendesak masyarakat NTT. Namun sektor sanitasi, khususnya pembangunan jamban dan pemeliharaan irigasi, masih menjadi pekerjaan rumah besar,” kata Melki.





