Gubernur menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Program SIAP SIAGA kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia, BAPPERIDA Provinsi NTT, Kelompok Kerja Perubahan Iklim, serta seluruh mitra pembangunan yang terlibat menyusun dokumen ini secara kolaboratif.
“RAD API bukan sekadar dokumen teknis. Ia adalah mandat politik dan moral untuk melindungi kehidupan serta penghidupan masyarakat. NTT masuk dalam daerah paling rentan iklim; tantangan ini makin berat bersanding dengan persoalan kemiskinan dan stunting. Oleh karena itu, RAD API harus terintegrasi ke dalam seluruh perencanaan pembangunan, mulai RPJMD, RKPD, hingga program kerja setiap instansi,” tegasnya.
Ia menegaskan dokumen ini selaras dengan prioritas nasional: ketahanan pangan, air, energi, kesehatan, dan pelestarian lingkungan. Keberhasilannya tidak bisa dijalankan sendiri, melainkan butuh kekuatan kolaborasi lintas sektor melalui pola pentahelix — pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, media, dan mitra pembangunan. Kepada seluruh kabupaten dan kota diminta segera menyusun RAD API masing-masing yang operasional dan terhubung erat dengan pedoman provinsi.
Jika RAD API adalah rute terbangnya, maka komitmen kita bersama adalah mesin dan bahan bakarnya. Dokumen baru bernilai nyata jika seluruh unsur menjadi awak pesawat yang sigap mengendalikan arah. Tujuannya satu: agar NTT tak hanya bertahan terbang melintasi badai iklim, tapi mendaratkan generasi mendatang di masa depan yang lebih aman, makmur, dan lestari.
