Di balik proses hukum yang berjalan, ada suara-suara lirih dari masyarakat yang tak boleh diabaikan. Orang tua di Kupang merasakan ketakutan yang nyata. “Kami takut anak-anak kami pulang malam. Kejadian seperti ini membuat kami was-was, karena nyawa bisa melayang hanya karena konflik kecil,” ungkap Maria, seorang ibu rumah tangga di Kelapa Lima. Kehilangan Delfi dan Lucky menjadi cermin kegelisahan kolektif para orang tua lain.
Para guru pun menatap kasus ini dengan keprihatinan mendalam. “Sekolah berusaha menanamkan nilai damai, tapi lingkungan sosial sering lebih kuat mempengaruhi. Perlu kerja sama antara sekolah, keluarga, dan aparat agar anak-anak tidak terjebak dalam kekerasan,” kata Yohanes, guru SMA di Kota Kupang. Bagi mereka, tragedi ini adalah tanda bahwa pendidikan karakter harus diperkuat dengan dukungan nyata dari masyarakat dan negara.
Sementara itu, mahasiswa melihat kasus ini sebagai panggilan moral. “Kami mendesak transparansi penuh. Kasus ini harus menjadi pelajaran bahwa kekerasan tidak boleh ditoleransi. Generasi muda harus berani bersuara demi keadilan,” ujar Melki, mahasiswa Universitas Nusa Cendana. Suara mahasiswa menjadi energi kritis yang menuntut agar hukum tidak berhenti di tengah jalan.





