Kebebasan yang ditawarkan platform digital bisa berubah menjadi jebakan yang mengikis harga diri dan jati diri.
Opini: Boy Ramschie
Seperti burung yang tampak bebas terbang di langit, padahal sayapnya dikendalikan oleh tali tak kasat mata, demikianlah sebagian orang memandang industri konten dewasa hari ini. Apa yang disebut sebagai kebebasan berekspresi justru dicurigai sebagai bentuk perbudakan modern—tanpa rantai, tanpa cambuk, namun tetap menjerat.
Menurut Boy Ramschie, eksploitasi tubuh perempuan dalam industri film dewasa dulu dilakukan secara terang-terangan melalui kamera dan sistem produksi yang jelas terlihat. Kini, bentuknya lebih halus: platform digital memberi ilusi kebebasan. Ungkapan “saya upload karena saya mau, bukan disuruh” sering terdengar, namun diyakini sebagai tanda bahwa sebagian orang tidak menyadari sedang dimanipulasi.
Sistem ini tidak lagi membutuhkan paksaan fisik. Algoritma dan insentif uang menjadi pengendali utama. Jika dulu korban meminta tolong karena disiksa, kini mereka “pasang harga sendiri, upload, dan tersenyum.” Setiap klik, setiap langganan, adalah transaksi yang memperkuat lingkaran ini.
Semakin banyak yang membayar, semakin terkikis nilai diri. Otak menerima dopamin, uang mengalir, rasa malu perlahan hilang. Anak-anak perempuan lain pun terpengaruh, menganggap cara ini sebagai jalan cepat menuju kekayaan. Sementara itu, kaum pria dilatih untuk melihat tubuh sebagai objek konsumsi.





