Kasus Mengakhiri Hidup kembali mengguncang Bajawa Utara. Tekanan keluarga dan persoalan sepele di meja makan berujung tragedi, memantik alarm sosial bagi pemerintah, tokoh masyarakat, dan agama.
Kabupaten Ngada-NTT, — Hidup sering diibaratkan seperti perahu yang berlayar di lautan luas. Ombak bisa datang tiba-tiba, angin bisa bertiup kencang, membuat perahu oleng dan hampir karam. Namun, mengakhiri pelayaran bukanlah solusi. Sebab, di balik badai selalu ada pelabuhan yang menanti. Begitu pula kehidupan: tekanan ekonomi, konflik keluarga, dan rasa putus asa adalah badai yang mengguncang, tetapi bukan alasan untuk mengakhiri hidup.
Tragedi di Bajawa Utara
Tiga belas hari setelah bocah YBS (10) ditemukan meninggal dunia akibat dugaan bunuh diri, kabar pilu kembali mengguncang Kabupaten Ngada, NTT. EN (28), seorang ibu muda dengan tiga anak, dilaporkan mengakhiri hidupnya dengan meneguk racun serangga pada Rabu, 11 Februari 2026.
Meski sempat dilarikan ke Puskesmas Watu Kapu, nyawa EN tak tertolong. Jenazahnya direncanakan dimakamkan di kampung halaman pada Jumat, 13 Februari 2026 (Kemarin).
Camat Bajawa Utara, Frederikus Dhoi, menegaskan bahwa kondisi ekonomi korban sebenarnya cukup baik, dengan kepemilikan sawah, rumah tembok, dan alat pertanian. Menurutnya, pemicu utama adalah cekcok keluarga terkait makanan yang tidak tersedia di rumah.
