ROTE NDAO — Krisis dokter spesialis kembali menghantui RSUD Ba’a, rumah sakit tipe D paripurna di Pulau Rote. Dua spesialis mayor, yakni kandungan dan penyakit dalam, kini kosong. Kondisi ini membuat pelayanan kesehatan dasar terganggu, terutama saat rujukan ke Kupang terhalang cuaca ekstrem.
Bayangkan sebuah pesawat kecil yang harus terbang di atas lautan luas. Pesawat itu lengkap dengan mesin, kru, dan penumpang. Namun, tanpa pilot dan kopilot, setiap turbulensi bisa berujung pada tragedi. RSUD Ba’a di Pulau Rote adalah pesawat kesehatan masyarakat. Gedung, peralatan, dan tenaga medis umum adalah badan pesawat. Tetapi dokter spesialis adalah pilot yang memastikan pesawat ini bisa terbang aman dan sampai tujuan.
Sebagai rumah sakit tipe D paripurna, RSUD Ba’a seharusnya memiliki tujuh dokter spesialis utama: kandungan, bedah, anak, penyakit dalam, radiologi, patologi klinik, dan anestesi. Namun, dua spesialis mayor kini kosong: dokter kandungan dan dokter penyakit dalam. Kekosongan ini bukan sekadar pelanggaran standar, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan pasien.
RSUD Ba’a berada di Pulau Rote, sementara rujukan lanjutan harus ke rumah sakit di Pulau Timor. Pada musim hujan ekstrem, BMKG sering melarang pelayaran laut dan penerbangan udara. Jika pada saat itu ada pasien yang harus dirujuk—misalnya ibu hamil dengan komplikasi atau pasien penyakit kronis yang kritis—maka pilihan satu-satunya adalah pasrah. Tanpa dokter kandungan dan penyakit dalam di RSUD Ba’a, nyawa pasien bergantung pada cuaca
