Turbulensi Anggaran di Provinsi NTT, PAD Berkurang Ratusan Miliar, Belanja Operasional Dipangkas, Defisit Melanda APBD 2026

Reporter: Adrianus Ndu Ufi  
| Editor: Redaksi Timor Raya

Perubahan paling dramatis terjadi pada posisi akhir anggaran. Sebelum perubahan terdapat surplus sehat sebesar Rp238 miliar rupiah. Namun setelah perubahan, posisi itu berbalik 180 derajat menjadi defisit sebesar Rp48.534.234.358,00. Kekurangan ini harus ditutup melalui pembiayaan. Penerimaan Pembiayaan yang semula Rp75 miliar naik tajam menjadi Rp362 miliar atau lebih dari 4 kali lipat, untuk menambal kekurangan tersebut. Pengeluaran Pembiayaan tetap di angka Rp313 miliar, sehingga Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran akhirnya nihil.

Dalam laporannya, Badan Anggaran DPRD NTT menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi dan TAPD atas kerja sama pembahasan. Namun angka angka yang tercantum dalam perubahan APBD ini menjadi sinyal jelas bahwa turbulensi fiskal sedang melanda provinsi NTT. Pemangkasan belanja operasi dan peningkatan belanja tidak terduga menunjukkan pemerintah daerah sedang bersiap menghadapi situasi yang belum stabil.

EPILOG EDITORIAL

Anggaran bukan sekadar deretan angka yang dijumlahkan dan dikurangkan. Anggaran adalah cerminan kekuatan dan kesiapan sebuah daerah menghadapi masa depan. Ketika PAD turun ratusan miliar rupiah, itu berarti potensi ekonomi dan kemampuan masyarakat pun sedang tertekan. Ketika belanja operasi dipangkas ratusan miliar, itu berarti pelayanan publik dan program kerja kemungkinan akan melambat atau dikurangi. Ketika dana tidak terduga melonjak berkali kali lipat, itu berarti ada ancaman yang belum terlihat namun sudah diantisipasi. Dan ketika surplus berbalik menjadi defisit, itu berarti daerah ini mulai hidup dari tabungan cadangan, bukan dari hasil kerjanya sendiri. Perubahan APBD 2026 ini bukan sekadar penyesuaian teknis. Ini adalah peringatan keras bahwa fondasi keuangan NTT sedang berguncang. Tugas pemerintah dan DPRD bukan hanya menyetujui angka angka ini, melainkan menjawab pertanyaan paling mendasar: mengapa PAD jatuh begitu tajam, dan kapan kita bisa kembali terbang stabil tanpa terus menarik dana cadangan? Rakyat berhak tahu, dan rakyat berhak mendapat jawaban yang jujur.***

Pos terkait