Sepuluh Ribu yang Merenggut Nyawa YBR : Surat dari Gubuk Bambu di Tengah Hutan Kemiskinan

Reporter: Adrianus Ndu Ufi  
| Editor: Redaksi Timor Raya

Redaksi Timor Raya 

Seperti sebuah perahu kecil yang terombang-ambing di lautan tanpa pelabuhan, hidup seorang bocah bernama YBR di Kabupaten Ngada hanyalah perjalanan panjang di atas ombak kemiskinan. Ia bersama empat saudaranya dan seorang nenek berusia 80 tahun menempati gubuk bambu yang rapuh, tanpa jaring pengaman sosial, tanpa rumah layak, dan tanpa kepastian hari esok.

Kupang-NTT, — 5 Februari 2026 – Kasus seorang siswa SD bernama YBR dari UPTD SD Negeri RJ Kabupaten Ngada yang meninggal dunia karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu membeli buku seharga Rp. 10 ribu menjadi sorotan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam sebuah forum. Kejadian ini membuatnya menyatakan rasa kesedihan dan kekhawatiran mendalam terkait ketersediaan akses layanan bagi warga miskin.

YBR tinggal bersama nenek berusia 80 tahun dan empat kakaknya di sebuah gubuk bambu. Sejak usia 1 tahun, ia ditinggal oleh ayahnya, sementara ibunya tinggal di desa tetangga dan harus menafkahi lima anak. Kepala Sekolah Maria Ngene menyampaikan bahwa meskipun berasal dari keluarga kurang mampu, YBR selalu membayar uang sekolah meskipun tidak tepat waktu.

Data menunjukkan penduduk miskin di Kabupaten Ngada tahun 2024 tercatat sebanyak 24.570 jiwa, sementara BPS mencatat jumlah tersebut sebesar 20.480 jiwa dengan persentase kemiskinan 11,87 persen dari total penduduk 171.865 jiwa. Gubernur menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bukti kegagalan sistem, baik dari pemerintah, pranata sosial, agama, hingga budaya.

Pos terkait