Gubernur NTT Dorong Kampus Jadi Mitra Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

Reporter: Ocep 
| Editor: NU
Foto: Emanuel Melkiades Laka Lena, Gubernur NTT Menerima Plakat dari Rektor Unwira, Pater Philipus Tule, SVD

Ia mengungkapkan bahwa pada 2045, sekitar 5% populasi dunia akan hidup di kawasan urban, sedangkan desa-desa mengalami pengurangan penduduk. Hal ini berdampak pada struktur ekonomi dan sosial, termasuk juga di NTT.

Gubernur juga menyoroti ketimpangan pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi di NTT. Meski angka stunting masih tinggi (37,9%), namun ia mencatat ada peningkatan konsumsi dan investasi pemerintah.

Bacaan Lainnya

Data Bank NTT menunjukkan defisit neraca perdagangan daerah sebesar Rp 51 triliun, dengan nilai impor Rp59 triliun dan ekspor hanya sekitar Rp 7 triliun. Potensi pariwisata juga menjadi perhatian, di mana dari 637 destinasi, hanya 18 yang memiliki sarana prasarana pendukung memadai.

“Labuan Bajo memang sudah mendunia, tapi destinasi lain seperti di Sumba Barat, Alor, dan Lembata belum optimal. Wisata mengejar paus biru di Lembata merupakan peluang langka yang perlu dikembangkan lagi.” katanya.

Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan juga disebutnya masih belum produktif, dan pemanfaatan lahan tidur masih sangat terbatas. “Kita butuh untuk membuka lahan, membangun bendungan, dan mendorong investasi produktif,” ungkapnya.

Terkait energi, Gubernur menyoroti minimnya pemanfaatan potensi energi baru terbarukan NTT, dimana wilayah seperti Pulau Sumba masih mengalami keterbatasan jaringan listrik dan masih ketergantungan pada energi fosil.

Pos terkait