Seorang guru SD GMIT Bokong yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa anak-anak dalam video tersebut adalah murid sekolahnya. “Benar, itu anak-anak dalam video viral adalah siswa SD GMIT Bokong,” ujarnya kepada Media. Ia menambahkan, semangat belajar anak-anak tidak pernah padam meski harus menghadapi bahaya setiap hari.
Sekretaris Desa Bokong, Melumagden Tafui, menjelaskan bahwa kesulitan menyeberangi sungai sudah berlangsung lama. “Kalau tidak ada alat berat, anak-anak harus menunggu air surut. Kadang di musim hujan mereka tidak bisa bersekolah, atau pulang sore tergantung pasang surut banjir,” katanya. Sungai yang meluap seakan menjadi tembok besar yang memisahkan anak-anak dari cita-cita mereka.
Menurut Tafui, pemerintah provinsi NTT pernah merencanakan pembangunan jembatan gantung dengan anggaran sekitar Rp3 miliar. Namun proyek tersebut tertunda akibat pandemi Covid-19 dan efisiensi anggaran, sehingga dana yang sempat dianggarkan dalam APBDes Bokong tidak cair dan tidak masuk dalam APBDes 2020. Harapan masyarakat pun tertunda, sementara anak-anak terus bertaruh nyawa demi menuntut ilmu.
Orang tua murid lain, Kornelis, mengaku sering merasa putus asa. “Kami ingin anak-anak kami pintar, bisa bersaing di masa depan. Tapi setiap musim hujan, kami takut mereka tidak bisa sekolah. Kalau terus begini, bagaimana mereka bisa ikut membangun Indonesia Emas?” katanya dengan mata berkaca-kaca.





