Jembatan Tak Ada, Masa Depan Anak SD Digantung di Ekskavator Demi Indonesia Emas 2045

Reporter: Adrianus Ndu Ufi  
| Editor: Redaksi Timor Raya -Lot

Di balik keterbatasan itu, semangat anak-anak Bokong justru menjadi simbol keteguhan. Mereka tahu bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan. Setiap kali ekskavator bergerak, mereka seakan menantang arus sungai dan menegaskan: masa depan tidak boleh dikalahkan oleh banjir.

Kondisi ini menjadi ironi di tengah cita-cita besar bangsa. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menegaskan visi Indonesia Emas 2045, sebuah masa depan di mana generasi muda menjadi pelaku utama pembangunan. Namun di Bokong, anak-anak masih harus bertaruh nyawa hanya untuk hadir di kelas.

Bacaan Lainnya

Harapan masyarakat kini tertuju pada pemerintah daerah hingga pusat. Mereka ingin jembatan permanen segera dibangun, agar anak-anak bisa menuntut ilmu dengan aman. “Anak-anak di Desa Bokong berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama dengan anak-anak di wilayah perkotaan. Mereka adalah generasi yang akan mengisi Indonesia Emas 2045, bukan sekadar menjadi penonton,” tegas Tafui.

Di tepi sungai Bokong, ekskavator mungkin hanya besi tua yang berisik. Namun bagi anak-anak SD, ia adalah perahu harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, perjuangan mereka akan berbuah manis, dan Indonesia Emas 2045 benar-benar menjadi milik mereka.

Pos terkait