Editorial: Redaksi Timor Raya
Alih-alih mendengar suara rakyat, sebagian pemimpin memilih mengungkit masa lalu dan meremehkan kapasitas publik.
Cermin yang Retak
Bayangkan sebuah cermin. Ia seharusnya membantu seseorang melihat kekurangan agar bisa merapikan diri. Namun ada orang yang ketika bercermin justru marah pada bayangan yang muncul, lalu memecahkan kaca. Akibatnya, ia kehilangan alat untuk memperbaiki diri, dan hanya menyisakan serpihan yang melukai tangan siapa pun yang mencoba mendekat.
Demikianlah pemimpin yang menolak kritik. Kritik rakyat adalah cermin demokrasi. Alih-alih bercermin, ia memilih menyerang balik, mengungkit masa lalu rakyat, dan meremehkan kapasitas publik. Padahal, tanpa cermin, pemimpin kehilangan arah untuk memperbaiki kebijakan.
Fenomena Pemimpin Anti Kritik
– Defensif berlebihan: Kritik dianggap ancaman, bukan masukan.
– Mengalihkan isu: Substansi kebijakan diabaikan, fokus digeser ke kegagalan masa lalu rakyat.
– Legitimasi diri lewat penghargaan eksternal: Pemimpin menekankan apresiasi lembaga lain, seolah suara rakyat tidak sah.
– Meremehkan kapasitas rakyat: Pertanyaan retoris seperti “Apa kapasitas kamu?” memperlihatkan sikap merendahkan.
Dampak bagi Demokrasi
– Erosi kepercayaan publik: Rakyat merasa suaranya tidak dihargai.
– Polarisasi sosial: Kritik dianggap permusuhan, jarak antara pemimpin dan rakyat makin lebar.
– Kehilangan legitimasi moral: Pemimpin tampak lebih sibuk menjaga ego daripada memperbaiki kebijakan.





