Dari Angka Kemiskinan, Stunting Hingga Jalan Rusak, Seorang Kepala Daerah Memilih Kerja Nyata, Bukan Seremoni
Editorial: Redaksi Timor-raya
ADRIANUS NDU UFI
Seorang kepala daerah ibarat seorang petani yang baru menapakkan kaki di ladang. Sebelum menanam benih, ia harus tahu kondisi tanah: seberapa subur, berapa banyak gulma, dan berapa luas lahan yang rusak. Tanpa pengetahuan itu, benih harapan akan layu sebelum tumbuh. Begitu pula seorang pemimpin, ia wajib memulai kepemimpinannya dengan memahami kondisi rakyat secara nyata, bukan sekadar angka di atas kertas.
Langkah Awal Seorang Pemimpin Jujur
Setelah dilantik, seorang kepala daerah yang jujur tidak langsung sibuk dengan seremoni. Ia memilih jalan yang lebih berat:
– Mengidentifikasi jumlah penduduk secara detail.
– Mengetahui berapa keluarga miskin yang harus segera disentuh program pengentasan.
– Menghitung ibu hamil yang perlu pendampingan agar bayi lahir sehat.
– Mencatat anak usia sekolah yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.
– Memetakan balita stunting yang harus diselamatkan dari gizi buruk.
– Menyusun daftar ruas jalan dan jembatan rusak yang menghambat arus barang, akses pendidikan, dan layanan kesehatan.
Dari data itu,Gubernur ia menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bersama seluruh Kepala Daerah, Unsur Forkompindah, Kepala OPD, camat, lurah, dan kepala desa dan jika Bupati, Rakor Bersama Unsur Forkompindah, Kepala OPD, Canat, Lurah, Kepala Desa serta Walikota, Rakor Bersama Unsur Forkompindah,Kepala OPD dan semua Lurah





