Kabupaten Kupang Menenun Sejarah, Alumni STPDN Jadi Camat dan Lurah, Tapi Benang Rakyat Masih Rapuh

Reporter: Adrianus Ndu Ufi  
| Editor: Redaksi Timor Raya

Editorial Redaksi Timor Raya 

Gebrakan Yosef Lede Bupati Kupang melantik 41 alumni STPDN sebagai camat dan lurah se-Kabupaten Kupang menjadi sorotan nasional. Namun di balik panggung prestisius itu, tantangan nyata masih menjerat: 11.628 anak putus sekolah, 90 ribu jiwa hidup dalam kemiskinan, dan ribuan balita berjuang melawan stunting. Sejarah bisa tercatat indah, atau justru menjadi bumerang bila benang rakyat tetap kusut.

Bacaan Lainnya

Di Oelamasi, akhir Desember 2025, panggung pelantikan itu berdiri megah. Bupati Kupang Yosef Lede, dengan suara lantang, melantik 41 alumni STPDN sebagai camat dan lurah se-Kabupaten Kupang. Tepuk tangan bergema, seragam PDU (Pakaian Dinas Upacara) berbaris rapi, dan bendera merah putih berkibar seolah menandai sebuah sejarah baru. Namun di balik gemerlap seremoni, ada wajah lain yang tak terlihat di podium: anak-anak yang duduk di beranda rumah dengan buku kosong karena tak mampu bersekolah, balita yang tubuhnya kurus menunggu gizi yang tak kunjung datang, dan keluarga miskin yang masih berjuang di ladang kering. Sejarah sedang ditulis, tetapi benang rakyat masih rapuh—menunggu apakah pamong praja muda ini akan menenun harapan atau meninggalkan kain yang koyak.

Pos terkait