Puisi: Ombak Anggaran, Suara PPPK : Potong 50%?

Di meja rapat kalian hitung angka,

di ladang hidup kami hitung harapan.
APBD yang kering, defisit yang menganga,
membuat gaji kami jadi separuh bayangan.

Kami pernah percaya pada janji SK,
bahwa gaji bisa jadi sandaran di Bank NTT.
Namun kini separuh sudah tergadai,
dan separuh lagi terancam hilang di meja kebijakan.

Bagaimana kami bisa mengajar dengan tenang,
jika pikiran terbagi antara papan tulis dan dapur kosong?
Bagaimana kami bisa melayani dengan baik,
jika tangan harus bekerja ganda:
satu untuk negara, satu untuk sekadar nasi anak-anak?

Pak Bupati, para wakil rakyat,
dengarlah suara yang datang dari ruang kelas,
dari meja pelayanan, dari rumah sederhana kami.
Kami bukan angka dalam tabel defisit,
kami adalah wajah-wajah yang menyalakan masa depan.

Jika gaji dipotong,
maka beban hidup bertambah dua kali lipat:
melayani di kantor dengan senyum yang dipaksa,
dan bekerja sampingan demi biaya sekolah,
demi makan minum, demi hidup keluarga.

Ombak anggaran boleh tinggi,
tapi jangan biarkan perahu kami karam.
Karena di atas perahu PPPK ini,
ada istri, ada suami, ada anak-anak,
yang menunggu pulang dengan secercah kepastian.

Pos terkait