Pihaknya juga telah meminta Badan Meteorologi dari perwakilan Ende untuk melakukan kajian. Namun hingga kini hasil kajian tersebut belum diterima.
“Kami tetap mendengar apa yang disampaikan masyarakat. Terus terang, kami juga malu karena masih ada masyarakat yang tinggal di GOR. Tetapi kami serba salah karena soal tanah ini sangat krusial,” ujar Apris.
Sementara itu, salah seorang warga terdampak, Imanuel Faot, mengungkapkan bahwa kondisi warga saat ini penuh kebingungan.
“Sebagian besar warga yang sebelumnya direlokasi ke GOR Nekmese akhirnya memilih kembali ke rumah masing-masing. Kami jenuh menunggu kepastian dari pemerintah, padahal Bupati TTS sudah menyatakan semua menunggu informasi resmi,” kata Imanuel.
Ia menjelaskan, sejak Maret lalu pemerintah menawarkan dua opsi lokasi relokasi, yakni Civic Center dan Sonapolen. Namun seiring waktu berjalan, kedua opsi itu tidak lagi jelas, sehingga masyarakat semakin bingung.
“Jawaban pemerintah terkait lokasi relokasi tidak jelas. Karena itu, satu per satu warga kembali memperbaiki rumah mereka meski dalam kondisi parah, agar bisa tidur lebih tenang sambil menunggu kepastian,” tambahnya.
Lebih lanjut, Imanuel menyampaikan aspirasi agar Pemkab TTS segera memberi kejelasan.
“Kami berharap Pak Apris sebagai utusan Bupati bisa menyampaikan aspirasi kami. Kami ingin tahu lokasi relokasi yang jelas agar kami bisa tinggal tetap dan aman. Kami juga berterima kasih karena beliau sudah mendengar keluhan kami. Masih ada sekitar 22 KK yang tetap bertahan di GOR karena rumah mereka rusak berat sehingga belum bisa kembali,” tegasnya.





