“Masa barang buktinya sudah dijual bulan Juni, padahal perkaranya baru terjadi bulan Agustus. Kami punya bukti transfer penjualan. Apakah ini barang hantu atau barang yang bisa terbang dari Pulau Semau ke Kupang?” sindir Eben.
3. Kejanggalan Rekonstruksi dan Peran Pengganti
Eben juga mempertanyakan proses rekonstruksi yang menggunakan peran pengganti.
“Kalau memang benar mereka yang lakukan, kenapa tidak hadir langsung melakukan adegan? Ini menunjukkan skenario sudah disusun matang supaya benang merah tidak terlihat,” ujarnya.
4. Data Forensik dan Identitas yang Aneh
Hasil forensik disebut tidak menemukan tanda kekerasan, namun dakwaan menyebut pemukulan.
“Katanya tidak kenal, tapi bisa memanggil nama korban. Ini tidak masuk akal,” tambahnya.
5. Status Saksi yang Dipertanyakan
Keluarga juga menyoroti saksi bernama Excel yang disebut minum bersama pelaku, padahal faktanya saat kejadian saksi tidak berada di Kupang.
Meminta Atensi Presiden dan Kapolri
Melihat berbagai kejanggalan tersebut, Eben mewakili orang tua ketujuh pemuda ini meminta perhatian serius dari lembaga tinggi negara.
“Kami ini orang kecil, anak-anak kami tidak tahu apa-apa tapi diperdayakan seperti ini. Maka kami meminta kepada DPR RI, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, dan Pak Kapolri untuk memberikan atensi khusus. Kami juga memohon kepada Bapak Presiden RI, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden, tolong kami,” pinta Eben.





