Human Angle: Suara Warga
Kasus ini turut menyedot perhatian masyarakat Kota Kupang, Seorang Aktivis Hukum yang di hubungi pertelepon menilai Perkara ini Mencerminkan lemahnya Perlindungan hukum Bagi Warga
Sementara itu, seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Nefonae yang dihubungi media pertelepon mengaku prihatin melihat konflik rumah tangga yang berujung ke pengadilan.
“Sebagai ibu, saya hanya bisa berharap anak-anak tidak menjadi korban dari pertengkaran orang tua,” katanya lirih.
Di sisi lain, seorang pedagang ikan di Pasar Oeba dihubungi pertelepon menyoroti fakta setoran usaha yang disebut mencapai Rp10 juta per hari.
“Kalau benar begitu, berarti usaha ikannya besar sekali. Sulit dipercaya kalau keluarga itu sampai kesusahan ekonomi,” ujarnya sambil menata dagangannya.
Harapan Tim Hukum
Tim hukum berharap fakta-fakta yang terungkap dapat memberikan gambaran jelas bagi publik.
“Tujuan kami adalah agar keadilan benar-benar tercapai, dengan melihat siapa yang sebenarnya perlu bertanggung jawab atas kondisi yang terjadi,” pungkas Imbo.
Seperti cermin retak yang memantulkan bayangan berbeda dari setiap sudut, persidangan Mokris lay kini memperlihatkan wajah perkara yang lebih kompleks. Fakta-fakta baru yang muncul bukan hanya menguji tuduhan, tetapi juga membuka ruang bagi publik untuk menilai ulang: apakah benar terjadi penelantaran, atau justru ada narasi lain yang selama ini tersembunyi.





