Kasus di Ngada menunjukkan celah paling rapuh itu: ketika seorang anak tidak mampu memenuhi kebutuhan paling dasar sekolah, tidak ada sistem yang otomatis menolongnya.
Kemiskinan yang Ditanggung Anak Sendirian
Kemiskinan tidak membunuh secara langsung. Yang membunuh adalah ketika kemiskinan berubah menjadi rasa malu, takut, dan tidak layak—lalu dibiarkan dipikul sendirian oleh seorang anak.
Anak usia sekolah dasar belum memiliki kapasitas psikologis untuk memahami keterbatasan ekonomi sebagai kondisi struktural. Yang ia pahami hanya satu hal: aku tidak cukup.
Di titik inilah kegagalan negara, sekolah, dan lingkungan sosial bertemu dalam satu tubuh kecil.
Sekolah yang Administratif, Bukan Protektif
Sekolah sering diperlakukan semata sebagai ruang administratif: absensi, nilai, laporan, kurikulum. Fungsi protektifnya—sebagai ruang aman bagi anak—hampir tidak pernah menjadi indikator keberhasilan.
Pertanyaan mendasarnya:
– Apakah sekolah memiliki mekanisme mendeteksi anak yang tidak mampu membeli alat tulis?
– Apakah guru diberi mandat dan perlindungan untuk bertindak di luar prosedur administratif?
– Ataukah semua persoalan anak direduksi menjadi “urusan keluarga”?
Jika seorang anak sampai merasa hidupnya tak layak dilanjutkan hanya karena pena, maka sekolah telah gagal menjalankan fungsi paling dasarnya: melindungi.
