Seorang Budayawan Nusa Tenggara menilai langkah GAMKI ini sangat relevan. “Tenun ikat adalah bahasa budaya orang Kupang. Jika generasi muda tidak lagi menenun, maka kita kehilangan satu lapis identitas. Gerakan Tenun ini bukan hanya pelestarian, tetapi juga strategi ekonomi kreatif yang bisa membuka pasar baru,” ungkapnya.
Dengan slogan “Penenun Hari Ini, Warisan Generasi”, Gerakan Tenun Kabupaten Kupang menegaskan posisi GAMKI sebagai barisan penjaga warisan budaya daerah. Program ini diharapkan menjadi gerakan kolektif yang memperkuat identitas lokal sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berperan aktif dalam pelestarian budaya.
