Idulfitri: Cahaya Fajar Rekonsiliasi, Risalah Moral Bangsa di Tengah Polarisasi

Idulfitri hadir sebagai risalah moral, mengajak bangsa kembali ke persaudaraan, keikhlasan, dan persatuan

JAKARTA-TIMORRAYA — Seperti embun yang jatuh di pucuk daun selepas malam panjang, Idulfitri datang membawa kesejukan bagi jiwa yang penat oleh riuh politik dan ketegangan dunia. Ia bukan sekadar gema takbir kemenangan, melainkan risalah moral yang mengingatkan bangsa untuk kembali ke pangkuan persaudaraan.

Hari Raya Idulfitri bukan hanya perayaan spiritual setelah Ramadan, tetapi momentum membersihkan hati, mempererat silaturahmi, dan memperkuat kebersamaan. Tradisi saling memaafkan seharusnya dimaknai lebih dalam, bukan sekadar formalitas atau salaman fisik.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa hakikat Idulfitri adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki relasi antar manusia, termasuk dalam kehidupan berbangsa. Ia menekankan bahwa tradisi memaafkan tidak boleh berhenti pada simbol sosial semata.

“Maaf dalam Idulfitri bukan sekadar berjabat tangan atau mengucapkan kata-kata formal. Hakikatnya adalah pembersihan hati, keikhlasan untuk menghapus dendam, serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” ujar Prof Achmad.

Nilai memaafkan sendiri merupakan ajaran penting dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, sebagaimana tercantum dalam Surah Ali Imran 3:134. Semangat ini, menurut Prof Achmad, relevan dengan kondisi kebangsaan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan dan polarisasi.

Pos terkait