Namun, di balik gegap gempita pelantikan yang disebut sebagai sejarah baru bagi Kabupaten Kupang, data berbicara dengan nada berbeda. Angka-angka yang dingin menyingkap wajah rapuh masyarakat: lebih dari 11 ribu anak tak bersekolah, sekitar 90 ribu jiwa hidup dalam kemiskinan, dan ribuan balita masih bergulat dengan stunting. Inilah panggung sesungguhnya yang menanti para pamong praja muda—bukan sekadar podium pelantikan, melainkan lorong-lorong desa, ruang kelas yang kosong, dapur keluarga miskin, dan posyandu yang penuh harapan.
Pelantikan 24 camat dan 17 lurah dari alumni STPDN adalah gebrakan pertama di NTT, bahkan di Indonesia. Yosef Lede menyebut langkah ini sebagai pengembalian marwah pamong praja. Namun, gebrakan monumental ini sekaligus menjadi taruhan besar atas nama baik STPDN
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 90,34 ribu jiwa masih hidup dalam kemiskinan di Kupang pada Maret 2024. Di sisi lain, 11.628 anak tercatat tidak bersekolah pada Juli 2025, menjadikan Kupang salah satu penyumbang tertinggi ATS di NTT. Lebih memprihatinkan lagi, kasus stunting melonjak dari 12,35% (3.574 balita) pada Februari 2024 menjadi 16,41% (4.141 balita) pada April 2025, terutama di Kupang Timur.





