“Pesan damai ini sudah ditandatangani oleh tiga perwakilan agama. Ini menjadi simbol bahwa NTT tetap menjunjung tinggi toleransi dan persatuan,” tambah Simson kepada media di gedung DPRD NTT
Selain Prosesi Damai, panitia juga menyiapkan Prosesi Galilea yang dipusatkan di Pantai Tedys, Kota Kupang. Umat dari wilayah pesisir seperti Sulamu, Semau, Rote, dan daerah lainnya akan berkumpul menggunakan perahu. Di lokasi tersebut, gubernur NTT, Forkompinda, wali kota Kupang, Ketua Sinode GMIT, tokoh agama, dan undangan lainnya akan hadir. Prosesi ini ditandai dengan simbolisasi makan roti dan ikan bersama sebagai refleksi kebersamaan dan iman.
Puncak Paskah akan digelar melalui pawai akbar yang diperkirakan diikuti sekitar 20 ribu peserta dari 30 klasis GMIT serta partisipasi lintas agama. Festival ini juga melibatkan sekitar 200 pelaku UMKM, dengan 30 UMKM ditempatkan di lokasi Prosesi Galilea dan 170 lainnya di sepanjang rute pawai. Berbagai lomba dan kegiatan pendukung juga disiapkan panitia sesuai kalender Paskah.
Simson menegaskan, “Ini bukan sekadar seremoni gerejawi, tetapi gerakan bersama untuk membangun kebersamaan di tengah dunia yang penuh tantangan.”
Seperti obor yang akhirnya tiba di titik nol selatan Indonesia, Festival Paskah 2026 diharapkan menjadi tanda bahwa dari beranda Nusantara, pesan damai dan persatuan terus menyala untuk seluruh negeri.





