Puisi Editorial Timor Raya
Di Kota Kupang, tanah retak menunggu jawaban,
482 ribu jiwa menatap langit dengan dahaga.
Sejak 1999, janji berganti wajah,
Namun tempayan rakyat tetap kosong,
Hanya menampung harapan yang tak pernah penuh.
Air adalah hak, bukan sekadar janji,
Ia turun gratis dari Tuhan,
Mengalir jernih dari awan ke bumi,
Namun tersendat di pipa berkarat birokrasi,
Tertahan di meja rapat, hilang di anggaran.
Gubernur, Walikota, dengarlah suara tempayan kosong,
Dengarlah anak-anak yang tumbuh dengan dahaga,
Dengarlah ibu-ibu yang menimba harapan dari sumur kering.
Air bukan sekadar kebutuhan,
Ia adalah kehidupan, keadilan, dan martabat.
Kami, Redaksi Timor Raya, menulis bukan untuk indah kata,
Melainkan untuk mengetuk hati pemimpin,
Agar air bersih tidak lagi menjadi barang langka,
Agar tempayan rakyat Kupang terisi penuh,
Seperti janji Tuhan yang memberi tanpa syarat.





