Pemerintah, melalui BPBD dan Dinas Sosial, telah mempersiapkan segala kebutuhan, mulai dari logistik, tempat tidur, hingga dapur umum untuk melayani masyarakat yang telah dievakuasi. Selain itu, warga juga akan mendapatkan bantuan pakaian layak pakai. “Pada prinsipnya, pemerintah hadir untuk memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi masyarakat,” tambahnya.
Kepala Desa Kuatae, Parco P. Salem, saat diwawancarai menjelaskan kronologi bencana yang terjadi di Desa nya. Menurutnya, kejadian ini berawal sejak Desember 2022, ketika mulai muncul retakan-retakan di tanah. Kemudian, pada 12 Maret lalu, akibat curah hujan yang tinggi, tanah di batas Kota Soe dan Kelurahan Soe, tepatnya di belakang BRI Soe, mulai bergeser sejauh 300 meter hingga mencapai rumah warga.
Dampak longsor pertama kali dirasakan oleh 10 kepala keluarga. Selanjutnya, pada 14 Maret, longsor kembali terjadi dan berdampak pada RT 01, sebagian RT 02, seluruh RT 03, seluruh RT 04, sebagian RT 12, dan sebagian RT 13, dengan total 60 keluarga terdampak. Hingga saat ini, jumlah warga terdampak telah mencapai 83 kepala keluarga, sementara 100 kepala keluarga telah mengungsi akibat akses jalan yang tertutup total.
Kepala Desa Kuatae juga menjelaskan bahwa banyak fasilitas umum mengalami kerusakan, termasuk Kantor Desa, aula, jaringan perpipaan air bersih, serta tiang dan kabel listrik. Ia menambahkan bahwa retakan tanah juga melewati lahan-lahan milik warga.





