Kutipan-kutipan ini menegaskan bahwa kebohongan tidak pernah berhenti pada satu titik. Ia selalu menuntut kebohongan lain untuk menopang dirinya.
Suara Warga
– Maria, pedagang pasar di Kupang: “Kami sudah bosan dengan janji-janji partai. Katanya harga sembako akan turun, tapi tiap bulan justru naik. Rasanya kami hidup dari kebohongan ke kebohongan.”
– Yohanes, guru sekolah menengah di Flores: “Anak-anak saya ajarkan tentang kejujuran, tapi ketika mereka melihat pejabat berbohong di televisi, mereka bertanya: ‘Pak, kalau pemimpin saja berbohong, kenapa kita harus jujur?’ Itu pertanyaan yang menyakitkan.”
– Siti, ibu rumah tangga di Jawa Timur: “Setiap kali kampanye, mereka datang dengan senyum dan janji. Setelah berkuasa, senyum itu hilang, janji itu lenyap. Yang tersisa hanya kebohongan yang diwariskan.”
Kutipan-kutipan ini memperlihatkan bagaimana kebohongan politik bukan sekadar wacana abstrak, melainkan luka nyata di kehidupan rakyat.
Penutup
Jika di awal kita berbicara tentang mata air keruh, mari kita tutup dengan analogi api di hutan.
– Satu percikan api kebohongan bisa membakar kepercayaan publik.
– Jika tidak segera dipadamkan, api itu menjalar dari pohon ke pohon, dari partai ke eksekutif, legislatif, hingga yudikatif.
– Pada akhirnya, bukan hanya hutan politik yang terbakar, tetapi juga harapan rakyat akan keadilan.





